Senkom.or.id | Bali - Menyambut Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu yang dilaksanakan 12 Maret 2013, pawai ogoh-ogoh digelar cukup meriah di beberapa wilayah di Indonesia khususnya di Pulau Bali.
Ogoh - ogoh, sebuah replika raksasa berwujud mahluk menyeramkan yang melambangkan Bhuta Kala atau kekuatan negatif yang selalu mengganggu ketentraman hidup manusia.
Pawai ogoh-ogoh ini merupakan salah satu tradisi yang paling menyita perhatian masyarakat luas sebelum hari raya Nyepi tiba, karena dibalik nilai ritual yang dimilikinya, pawai Ogoh - ogoh juga merupakan perwujudan dari daya kreasi dan inovasi seni para seniman muda. Jauh hari sebelum hari Nyepi (bahkan sebulan sebelumnya), para seniman Bali memang berusaha menampilkan karya mereka semaksimal mungkin.
Dana yang dikeluarkan untuk membuat ogoh-ogoh bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pasalnya, selain untuk diarak pada malam pengrupukan, saat ini ogoh-ogoh juga menjadi ajang perlombaan. Tujuannya, selain untuk melestarikan budaya, juga untuk mengarahkan minat generasi muda ke arah yang lebih positif yaitu mencintai seni.
Setelah prosesi pawai, Ogoh-ogoh dibakar di pinggiran desa sebagai perlambang pengusiran Butha Kala dari lingkungan desa setempat. Memang tidak ada manuscript dalam kitab Hindu yang menyebutkan adanya peranan Ogoh - ogoh dalam menyambut hari Nyepi, namun tradisi ini telah ada secara turun-temurun di Bali dan menjadi atraksi menarik yang patut disaksikan.
Dalam rangka membantu menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan pawai, SENKOM Bali ikut andil secara aktif salah satunya pada pawai ogoh-ogoh di wilayah Kelurahan Kerobokan Kaja Kecamatan Kuta Utara bersama pecalang dan beberapa aparat TNI serta Kepolisian termasuk Babinkamtibmas Kerobokan Kaja (11/3/13).
Rute yang dilalui dari mulai jalan raya Muding, jalan Tunjung Sari, Gn. Sahyang bergerak ke barat menuju Kerobokan. Tercatang lebih dari 20 ogoh-ogoh dengan berbagai macam bentuk dan rupa yang diarak. Masyarakatpun dengan antusias berbondong-bondong untuk menyaksikan pawai tersebut dengan tertib. Tak lupa, selama kegiatan berlangsung SENKOM Bali secara aktif melaporkan perkembangan kegiatan melalui komunikasi radio ke call center PusdalOps Bali yang dipimpin oleh SR 4.5 dengan operator Bapak Rudy.
Nusa Tenggara Barat
Ogoh - ogoh, sebuah replika raksasa berwujud mahluk menyeramkan yang melambangkan Bhuta Kala atau kekuatan negatif yang selalu mengganggu ketentraman hidup manusia.
Pawai ogoh-ogoh ini merupakan salah satu tradisi yang paling menyita perhatian masyarakat luas sebelum hari raya Nyepi tiba, karena dibalik nilai ritual yang dimilikinya, pawai Ogoh - ogoh juga merupakan perwujudan dari daya kreasi dan inovasi seni para seniman muda. Jauh hari sebelum hari Nyepi (bahkan sebulan sebelumnya), para seniman Bali memang berusaha menampilkan karya mereka semaksimal mungkin.
Dana yang dikeluarkan untuk membuat ogoh-ogoh bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pasalnya, selain untuk diarak pada malam pengrupukan, saat ini ogoh-ogoh juga menjadi ajang perlombaan. Tujuannya, selain untuk melestarikan budaya, juga untuk mengarahkan minat generasi muda ke arah yang lebih positif yaitu mencintai seni.
Setelah prosesi pawai, Ogoh-ogoh dibakar di pinggiran desa sebagai perlambang pengusiran Butha Kala dari lingkungan desa setempat. Memang tidak ada manuscript dalam kitab Hindu yang menyebutkan adanya peranan Ogoh - ogoh dalam menyambut hari Nyepi, namun tradisi ini telah ada secara turun-temurun di Bali dan menjadi atraksi menarik yang patut disaksikan.
Dalam rangka membantu menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan pawai, SENKOM Bali ikut andil secara aktif salah satunya pada pawai ogoh-ogoh di wilayah Kelurahan Kerobokan Kaja Kecamatan Kuta Utara bersama pecalang dan beberapa aparat TNI serta Kepolisian termasuk Babinkamtibmas Kerobokan Kaja (11/3/13).
Rute yang dilalui dari mulai jalan raya Muding, jalan Tunjung Sari, Gn. Sahyang bergerak ke barat menuju Kerobokan. Tercatang lebih dari 20 ogoh-ogoh dengan berbagai macam bentuk dan rupa yang diarak. Masyarakatpun dengan antusias berbondong-bondong untuk menyaksikan pawai tersebut dengan tertib. Tak lupa, selama kegiatan berlangsung SENKOM Bali secara aktif melaporkan perkembangan kegiatan melalui komunikasi radio ke call center PusdalOps Bali yang dipimpin oleh SR 4.5 dengan operator Bapak Rudy.
Nusa Tenggara Barat
0 Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Sebaiknya komentar sesuai berita yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Komentar ditayangkan setelah melalui moderasi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Emoji